Default

Scott Henderson, Sang Koki Blues Yang Bijak

Scott Henderson untuk kedua kalinya tampil di Jakarta. Jika di tahun 1993 Scott tampil dengan grup fusion yang dibentuknya bersama Gary Willis, Tribal Tech, maka semalam 20 Maret 2011 Scott Henderson tampil dengan kelompok trionya yang didukung Travis Carlton (bass) dan Allan Hertz (drums) di Hard Rock Cafe, Thamrin, Jakarta.

Scott Henderson untuk kedua kalinya tampil di Jakarta. Jika di tahun 1993 Scott tampil dengan grup fusion yang dibentuknya bersama Gary Willis, Tribal Tech, maka semalam 20 Maret 2011 Scott Henderson tampil dengan kelompok trionya yang didukung pemain bas Travis Carlton dan pemain drum Allan Hertz di Hard Rock Cafe, Thamrin, Jakarta.

Seperti halnya konser Tribal Tech dulu, kali ini Scott Henderson pun berkunjung ke Indonesia atas ajakan promotor Chico Hindarto, yang pernah menghadirkan Acoustic Alchemy, Spyrogyra, Yellow Jackets, John Pattitucci hingga Pat Metheny Group pada era ’90-an.

“Saya ingin kembali menghadirkan pemusik-pemusik jazz idealis ke Jakarta,” ungkap Chico Hindarto.

Menariknya, konser Scott Henderson yang merupakan bagian dari tur Asia-nya itu semalam ditonton oleh sebagian besar pemusik Indonesia dari era dulu hingga sekarang. Terlihat Nadjib Osman, Doddy Sukasah, Tammy “Gipsy”, Indro Hardjodikoro, Gusti Hendy, Thomas Ramdhan, Ikmal Tobing, Stevie Item, Irsa Destiwi, Robert Mulyarahardja, Demas Narawangsa, Krisna “Discus”, Iwan Hasan termasuk Ahmad Dhani bersama puteranya dan banyak lagi.

Bahkan konser ini banyak ditonton sederet gitaris dari pop, rock hingga jazz seperti Iwan Hasan, Ponco Satria, Andre Dinuth, Tohpati, Baron, Coki “Netral”, Ezra Simanjuntak, Gugun, Oding Nasution, Donny Suhendra, Andra Ramadhan hingga Stevie Item.

“Scott adalah gitaris yang telah memainkan genre apa saja. Kalo mau lihat tontonan yang cerdas, salah satunya ya nonton Scott Henderson,” tutur Oding Nasution, gitaris Cockpit yang juga ketua INA Blues, komunitas blues yang bermitra dengan Chico Hindarto menghadirkan Scott Henderson.

Komposisi karya Miles Davis “All Blues” yang diambil dari album fenomenal Kind Of Blue (Miles Davis,1958) menguak pertunjukan Scott Henderson yang menggunakan gitar bermerk Suhr. Ketrampilannya menggerayangi fret gitar membawa penonton pada sebuah ambience yang ekstatif.

Scott lihai mengimbuh solo melalui akord yang diberi ruang luas. Ini merupakan salah satu gaya Scott yang tampaknya telah terbentuk sejak dekade silam ketika Scott memilih meraup nafas blues dalam karya-karyanya.

Walhasil, karya-karya Scott Henderson terdengar lebih eklektik. Dia menghembuskan aroma blues kontemporer yang mengedepankan banyak progresi akord dan ambience. Namun Scott tetap hirau pada anasir swinging yang kerap menjadi roh utama musik jazz. Semuanya diekspresikan dalam bingkai rock yang menggelegar.

“Scott memang luar biasa. Dia telah sampai pada taraf established. Dia memainkan blues dengan berbagai kecenderungan. Swinging-nya tetap terasa,” komentar gitaris Tohpati. Dengan memilih pola Chicago Blues yang banyak mengedepankan bunyi-bunyian instrumen elektrik, menjadikan blues ala Scott Henderson bisa menyelusup ke lintas usia.

Jika dianalogikan, Scott Henderson adalah koki yang terampil mengaduk pelbagai elemen rasa menjadi satu kesatuan yang integral. Dan kita hanya mampu menyebutnya sebagai musik Scott Henderson.

Scott lalu bertutur pada penonton akan memainkan sebuah komposisi baru yang belum pernah mereka rekam bertajuk “Sphynx”. Lagu ini terasa unik, memadukan gaya fusion dan blues. Bahkan dalam beberapa verse, Scott menghadirkan notasi bernuansa Arabic.

Tensi lalu menurun saat Scott Henderson Trio memainkan “Calhoun” yang lebih teduh dan menghanyutkan. Banyak penonton merasa jenuh dengan gaya balada Henderson seperti ini. Padahal sesungguhnya disinilah keunggulan Scott dalam mengekspresikan pola permainan gitarnya yang variatif.

Ketertarikan orang terhadap musik Scott Henderson, jika dianalisis, terletak pada atmosfer blues rock yang dikedepankan sebagai tulang punggung musiknya. Scott sendiri mengaku sangat terpengaruh Jimmy Page, Jeff Beck, Jimi Hendrix hingga Johnny Winter sederet gitaris yang mengawinkan blues dan rock pada era ’70-an.

Permainan musiknya semakin kaya ketika Scott mulai berkenalan dengan modern jazz. Dia mulai menyimak Miles Davis hingga John Coltrane. Scott bahkan mulai diajak bergabung dalam proyek rekaman Chick Corea hingga Joe Zawinul.

Di lagu keempat Scott Henderson mendedikasikannya untuk almarhum Joe Zawinul penggagas Weather Report yang juga membentuk Zawinul”s Syndicate. Dan bergaunglah sebuah komposisi fusion bertajuk “Mysterious Traveller” karya Joe Zawinul yang terdapat dalam album Weather Report (1974).

Dalam komposisi ini permainan bass Travis Carlton yang putera gitaris Larry Carlton mulai terlihat penting. Bunyi bas yang dihasilkan Travis berpadu dengan sinkopasi rumit dari drummer Allan Hertz. Penonton pun kian terkesima. Aplaus panjang menggema di seantero Hard Rock Cafe.

Scott Henderson sendiri setiap pergantian lagu selalu mengambil jeda sejenak menyetem ulang senar gitarnya. Ini akibat permainan tremolo dan bending dengan intensitas yang tinggi. Walaupun jarang berkomunikasi dengan penonton, tapi Scott tetap berdialog melalui celoteh gitarnya yang ekspresif.

Pada lagu kelima “Hillbilly In The Band” yang diambil dari album solo Scott Well To The Bone (2002), ketiganya dengan antusias membawakannya dengan gaya bluegrass country yang tebal. Di pertengahan lagu sekitar 4 bar, Scott bercanda dengan menyusupkan musik tema film serial TV Bonanza karya Jay Evans dan Ray Livingston yang memorable itu.

Giliran Travis Carlton bersolo bas dengan gaya funk yang kental. Bunyi bas Travis kian unik dengan diimbuh semacam wah-wah. Jelas terlihat permainan bass yang menarik dari Travis. Tak salah jika Scott memilihnya sebagai bagian dari trionya kali ini.

Ketika Scott Henderson Trio mengakhiri pertunjukan pada pukul 23:05 WIB, penonton meminta encore. Trio ini memenuhinya dan memainkan komposisi karya Scott Henderson bertajuk “Dolemite” dari album Tore Down House yang dirilis tahun 1997. Komposisi ini tepat ditempatkan sebagai encore karena bernuansa jamming yang kuat.

Scott Henderson Trio pun mengakhiri pertunjukannya yang inspiratif tersebut.